Halaman

Kamis, 30 September 2010

‘‘MANTIQ AL-TAYR’ Fariduddin Attar: Syekh San'an dan Hakekat Cinta



Oleh: Abdul Hadi W. M.

Syekh San`an adalah orang suci dan ulama terkemuka pada zamannya. Pada suatu hari dia bermimpi bepergian dari Mekkah menuju Yunani, dan di sana dia menyembah arca yang sangat indah. Begitu terjaga dia merasa sangat sedih dan memutuskan Syekh pergi ke Yunani untuk mengetahui arti mimpinya. Diikuti oleh empat ratus muridnya sampailah dia di negeri seribu biara itu. Setelah mendatangi berbagai pelosok negeri itu sampailah ia di sebuah biara yang megah. Di sana dia melihat seorang gadis yang cantik luar biasa, memandang ke luar dari sebuah jendela.

Gadis Yunani itu ternyata beragama Nasrani. Syekh San`an sangat terpesona oleh kecantikannya. Ia berseru kepada murid-muridnya, “O alangkah dahsyat cintaku kepadanya. Andaikata aku dapat membebaskan diri dari kungkungan agama, tentulah aku beruntung dan bahagia!” Murid-muridnya mengerti maksud perkataan gurunya. Sementara itu Syekh San`an benar-benar terbakar api asmara. Dia merasa muda kembali, dan darah di tubuhnya bergelora. Dia berhasrat mendapatkan gadis Yunani itu dan menjadikan istrinya seumur hidup.

Siang malam Syekh San`an mengunjungi tempat itu untuk dapat menatap wajah gadis itu. Keinginannya untuk bertemu dan berbincang dengannya sedemikian kuatnya. Nasehat murid-muridnya tidak diacuhkannya, begitu pula ratusan doa yang mereka panjatkan sia-sia. Syekh San`an malahan semakin tergila-gila kepada gadis itu. Berhari-hari lamanya dia selalu gagal menjumpai gadis itu. Pintu biara tertutup rapat baginya. Pada akhirnya dia putus asa dan keadaannya begitu menyedihkan. Dia termangu-mangu di dekat tempat di bawah jendela tempat gadis itu selalu menampakkan mukanya.

Ketika melihat Syekh San`an sudah putus asa, gadis itupun keluar, menyilakan masuk kepada Syekh San`an dan menjamunya dengan makanan yang serba lezat dan minuman anggur. Karena cintanya Syekh San`an menuruti apa saja yang diperintahkan si gadis. Namun si gadis belum juga mau menerima lamaran Syekh San`an. Pada suatu hari ketika Syekh San`an bersedia masuk agama Nasrani, barulah gadis itu menerima lamarannya. Kini mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Sebagai mas kawinnya Syekh San`an harus bersedia memelihara babi, memandikan binatang-binatang itu dan memberinya makan pagi dan sore.

`Attar menulis pada episode ini, “Dalam fitrah kita masing-masing ada seratus babi. Wahai kalian yang tak berarti apa-apa, kalian hanya memikirkan bahaya yang sedang mengancam Syekh San`an! Sedangkan bahaya itu terdapat juga dalam diri kita masing-masing, dan menegakkan kepala sejak saat kita mulai melangkah di jalan pengenalan-diri. Kalau kalian tak mengetahui perihal babi-babi kalian sendiri, maka kalian tak akan mengenal Jalan Cinta. Tetapi apabila kalian mulai menempuh jalan itu, kalian akan menjumpai ratusan babi dan ratusan berhala pujaan. Halaulah babi-babi itu, bakarlah berhala-berhala itu di lembah Cinta; atau kalau tidak, kalian akan menjadi seperti Syekh San`an, hina dina dicemooh cinta.”

Kabar segera tersiar ke negeri-negeri Islam bahwa seorang ulama terkenal telah memeluk agama Kristen dan menjadi pemelihara babi, hanya disebabkan oleh cintanya kepada seorang gadis cantik yang masih muda. O betapa pesona dunia dapat membelokkan iman dan pengetahuan. Kebetulan di Mekkah tinggallah seorang Syekh, sahabat karib Syekh San`an. Mendengar berita itu dia hanya mengurut-urut dadanya. Murid-murid Syekh San`an yang sedang berada di Mekkah dipanggilnya semua dan diberi nasehat, “Apabila kalian benar-benar ingin berbuat sesuatu yang membuahkan hasil, kalian harus mengetuk pintu Tuhan berulang kali tanpa jemu. Dengan doa yang disertai keyakinan mendalam kalian akan diterima di hadirat Ilahi. Mestinya kalian memohon kepada Allah demi guru kalian, masing-masing dengan doa sendiri. Insya Allah Dia akan mengembalikan Syekh San`an kepada kalian. Mengapa kalian enggan mengetuk pintu Tuhan?”

Murid-murid itu pun segera berangkat ke Yunani. Sesampainya di sana mereka memilih tinggal tidak jauh dari tempat Syekh San`an. Empat puluh hari empat puluh malam mereka berdoa. Empah puluh hari lamanya mereka berpuasa, berpantang makan makanan lezat yang mengandung banyak lemak dan kolestrol. Mereka juga tak boleh tergoda oleh gadis-gadis cantik yang banyak terdapat di biara itu. Akhirnya kekuatan doa orang-orang tulus itu pun menggetarkan langit. Malam itu mereka bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad s. a. w. Dalam mimpi mereka Nabi Muhammad s. a. w. bersabda bahwa Syekh San’an sebentar lagi akan kembali ke jalan benar dan dosa-dosanya akan diampuni. Segala yang telah dia tinggalkan selama ini, kitab suci al-Qur`an, kiblat dan sajadah segera akan didatanginya lagi”.

Pada malam yang sama wanita Yunani itu juga bermimpi dan dalam mimpinya melihat matahari turun kepadanya, disertai suara, “Ikuti Syekh San`an suamimu, peluklah agamanya, jadilah suci seperti hatinya yang telah dibersihkan oleh cinta. Kau telah membawa dia ke jalanmu, kini ikuti jalan yang ditempuhnya.”
Ketika wanita itu terjaga dari tidurnya, Syekh San`an telah meninggalkan Yunani bersama empat ratus pengikutnya menuju Mekkah. Tidak tahan sendiri, dan merasa rindu kepada Syekh San`an, dia pun menyusul mereka menuju Mekkah. Kepada Syekh San`an dia berkata, “Aku merasa begitu malu karena kau. Singkaplah tabir rahasia itu, dan ajarkan Islam kepadaku, agar aku dapat menempuh jalan kedamaian dan keselematan!” Di depan Ka`bah, disaksikan oleh ratusan murid dan sahabat Syekh San`an, wanita Nasrani itu mengucapkan kalimah syahadah. Kebahagiaan memancar dari wajahnya yang cerah setelah berhari-hari muram oleh kesedihan.

Ada kisah cinta lain yang menarik, yaitu cinta putri raja kepada salah seorang hamba sahayanya yang tampan dan berbudi. Dalam kisah ini `Attar ingin mengamukan bahwa seringkali cinta mendatangi tanpa diharapkan dan disadari. Pengalaman cinta itu sendiri menurut `Attar bersifat subyektif sehingga sulit diuraikan kepada orang lain. Bahasa terbaik untuk mengutarakannya ialah bahasa sastra yang bersifat fuguratif dan imaginatif. Ketika seseorang asyik bercinta dia hanyut ke dalam dunia khayalan, sehingga tidak bisa membedakan apa yang dialami itu kenyataan atau impian.

Bagaimana cinta bisa timbul dalam diri seseorang? Salah satu penyebabnya ialah apabila obyek atau orang lain yang dicintai menampakkan keindahan yang membuatnya patut dicinta. Begitulah misalnya cinta Tuhan kepada manusia yang dipilih-Nya untuk mendapat petunjuk dari-Nya seperti nabi-nabi, para aulia dan santu di masa dahulu. Keindahan yang sangat kuat dayanya dalam menerbitkan dorongan hati seseorang untuk mencintainya, ialah keindahan batin (jamal), bukan keindahan lahir (husn). Hamba sahaya di dalam kisah `Attar ini dicintai bukan karena kecantikan wajah atau badannya, melainkan terutama karena ketaatan dan pengabdiannya kepada majikannya. Pada akhirnya `Attar juga ingin menyatakan bahwa cinta sejati itu tidak ada kepentingan sesuatu apa selain dari mencintai itu sendiri. Kisah lain tentang rahasia cinta sejati juga dapat dijumpai dalam ”Kisah Yusuf dan Zuleikha”. Tetapi dalam buku `Attar hanya dijumpai fragmennya. Yang memaparkan dalam alegori mistik menarik ialah Nizami al-Ganjawi, penulis Persia abad ke-12 M, segenerasi dengan `Attar.

Hakikat cinta yang lain ialah kepatuhan seorang pencinta kepada kekasihnya, yang mengakibatkan kekasihnya mencintainya secara dalam dan akhirnya patuh kepadanya. Ini diperlihatkan oleh kepatuhan Syeikh San`an kepada Gadis Nasrani, yang menyebabkan Gadis Nasrani itu cinta kepada Syeikh San`an dan akhirnya patuh kepadanya dengan memeluk agama Islam. Hakikat cinta yang lain lagi ialah bahwa cinta sejati dapat menembus perbedaan agama dan warna kulit (bangsa), artinya melalui cinta seseorang dapat menapai hakikat kemanusiaan dan kerohanian paling dalam, yaitu mencintai itu sendiri. Kisah ini juga memberi pelajaran bahwa dalam jalan cinta banyak sekali godaan dan bahaya yang mesti dilalui seorang penempuh jalan kerohanian. Pada saat Syeikh San`an jatuh cinta kepada Gadis Nasrani dia menjadi sesat karena beliau tidak dapat membedakan antara cinta nafsani (sensual) dan cinta sejati. Tetapi Syeikh San`an terselamatkan disebabkan kuatnya doa murid-muridnya sehingga Tuhan turun tangan memberi petunjuk dan bimbingan. `Attar ingin menyatakan bahwa Petunjuk Tuhanlah yang paling penting dalam kehidupan manusia.

Mengenai lembah ketujuh atau terakhir `Attar menulis, yang artinya lebih kurang sebagai berikut:

Melalui kesukaran dan kehinaan jiwa burung-burung itu luluh
Dalam fana, sementara tubuh mereka menjadi debu
Setelah dimurnikan maka mereka menerima hidup baru
Dari Cahaya Hadirat Tuhan yang Baqa
Sekali lagi mereka menjadi hamba-hamba berjiwa segar
Perpuatan dan kebisuan mereka pada masa yang lampau
Telah lenyap dan hapus dari lubuk dada mereka
Matahari Kehampiran bersinar terang dari dalam diri mereka
Jiwa mereka diterangi oleh cahaya petunjuk-Nya
Dalam pantulan wajah tiga puluh burung (si-murgh) dunia
Mereka lantas menyaksikan wajah Simurgh
Apabila mereka memandang ke dalam diri mereka
Ya nampak, itulah Simurgh, bukan lain.
Tidak diragukan bahwa Simurgh ialah tiga puluh (si-murgh) burung
Semua bingung penuh ketakjuban, tidak tahu apa mereka ini atau itu
Mereka memandang diri mereka tiada lain ialah Simurgh

Mantiq al-Tayr diakhiri dengan amanat penulisnya agar pembaca menempuh jalan cinta dalam kehidupan. Cinta ialah penawar untuk segala kesedihan dan duka nestapa, dan ia merupakan obat dalam dua dunia. Sang sufi juga mengharapkan pembaca tidak membaca karyanya sebagai buku puisi atau nujum, namun sebagai hikmah yang hanya dapat diselami melalui pemahaman yang dalam. Karya sastra baginya adalah upaya pembebasan jiwa dari kungkungan keduniawian (tajarrud) dengan menggunakan sarana-sarana estetik dan bahan verbal yang dijumpai dalam hidup keseharian, serta disediakan oleh kitab suci, sejarah, dan kebudayaan.

Akhir Kalam

Ada beberapa perspektif atau aspek penting yang dapat dikemukakan untuk melihat relevansi karya sufistik atau profetik seperti Mantiq al-Tayr. Pertama, berkenaan dengan wawasan estetika yang melandasi penulisannya, yang sebenarnya mencerminkan kecenderungan umum karya sejenis – sufistik, mistikal, transendental, spiritual, profetik, bahkan apokaliptik, dan lain sebagainya. Kedua, aspek kesejarahan yaitu sejarah sosial budaya dan keagamaan yang melatari penulisan karya `Attar. Ketiga, sebagai karya yang berangkat dari perenungan ketuhanan dan masalah keagamaan, tentulah patut kita bertanya teologi apa yang ditawarkan oleh karya seperti ini.

Secara estetik Mantiq al-Tayr memerlihatkan bahwa kaum spiritualis atau mistikus (dalam hal ini sufi) memandang bahwa sastra sebagai penyajian (presentation) secara simbolik gagasan dan pengalaman kerohanian yang dicapai penulisnya sebagai penempuh jalan kerohanian (`ilm al-suluk). Simbol-simbol tersebut diambil dari kitab suci, teks keagamaan, sejarah agama, peristiwa-peristiwa sejarah, budaya, cerita rakyat yang mereka kenal, dan lain sebagainya. Burung Hudhud, yang berperan sebagai guru spiritual (pir) para burung, diambil dari al-Qur’an. Ia adalah burung kesayangan Nabi Sulaiman a.s. karena paling mengetahui jalan menuju dan rahasia istana ratu Balqis (Sheba) di Yaman. Simurgh (phoenix, burung `anqa dalam legenda Arab, burung Pingai dalam sastra Melayu, burung Hung di Cina) diambil dari mitos, merupakan lambang hakekat ketuhanan yang tempatnya sangat tinggi. Burung-burung yang lain adalah lambang jiwa manusia yang kecenderungannya beraneka ragam. Bukit Qaf diambil dari al-Qur’an, simbol kedekatan (uns) manusia dengan Tuhan, sebab puncak gunung merupakan tempat pertemuan langit dan bumi (samawat wa al-`ardh). Penerbangan adalah simbol kenaikan jiwa dari tingkat terendah kesadarannya menuju tingkat kesadaran tertinggi. Misalnya dalam kisah cinta Syekh San`an dengan gadis Yunani adalah upaya pengarang untuk melukiskan betapa cinta profan bisa ditingkatkan menjadi cinta transcendental.
Dengan begitu peristiwa yang disajikan karya itu bukan peristiwa di ruang kehidupan keseharian atau sosial, tetapi di ruang kejiwaan dan rohani manusia. Hal serupa kita lihat dalam Bhagavat Gita, Divina Comedia Dante, Faust Goethe, dan lain sebagainya. Tentu apa yang dipaparkan di situ tetap ada kaitannya dengan realitas di luarnya. Persoalan-persoalan yang dikemukakan melalui kisah-kisah dalam Mantiq al-Tayr, adalah persoalan keseharian namun berhasil ditransformasikan menjadi persoalan spiritual dan keagamaan.

Seperti halnya karya sastra pada umumnya, kelahiran Mantiq al-Tayr tidak kosong dari pengalaman dan peristiwa sejarah. Tetapi sejarah yag dimaksud bukan sejarah yang empirik, bukan sekadar sejarah sosial dan politik. Tetapi juga sejarah pemikiran keagamaan dan filsafat. Ketika karya ‘Attar itu ditulis masyarakat Muslim sedang mengalami krisis internal dan sedang diambang perpecahan. Terhadap banyak aliran keagamaan di situ yang saling bertarung memperebutkan posisi dalam kehidupan sosial budaya dan politik. Perang Salib kian membuat keruh keadaan, begitu pula invasi Mongol (Jengis Khan) pada awal abad ke-13 M. Semua itu menggiring umat Islam ke arah disintegrasi sehingga terjadi diaspora besar-besaran. Terutama setelah penghancuran Baghdad oleh Hulagu Khan, cucu Jengis Khan, pada tahun 1256 M. Pemikiran keagamaan juga mengalami kejumudan karena cenderung ajaran agama ditafsirkan secara legalistik formal. Filsafat, science dan spiritualitas mengalami kemunduran, padahal sebelumnya mengalami masa kejayaannya.

Di tengah suasana kehidupan yang dipenuhi dengan krisis dan keputusasaan, serta ancaman internal dan eksternal itulah karya-karya profgetik sufi seperti Imam al-Ghazali, `Attar, Rumi, Ibn `Arabi, dan lain-lain dilahirkan. Melalui karya-karyanya itu mereka membangkitkan apa yang sekarang dapat disebut sebagai Teologi Harapan. Jika masyarakat susah lagi mempercayai institusi sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, dan agama; kepada siapa lagi dia harus berharap kecuali pada Tuhan dan dirinya sendiri. Cinta ilahi atau cinta transendental yang diajarkan sufi lahir sebagai upaya membangunkan kembali harapan yang telah redup dalam jiwa manusia. Manusia harus diyakinkan bahwa keadilan Tuhan dan pertolongan-Nya masih mungkin jika manusia berusaha keras dan mampu membangun cita-cita bagi masa depannya yang lebih baik.
Pesimisme dan sinisme tidak akan mampu memberi keselamatan. Hanya dengan meneguhkan keimanan, berikhtiar dan berpikir keras manusia dapat mengatasi penderitaan dan menyelamatkan kehidupannya. Hanya dengan meyakini bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan manusia sendirian mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya maka kehidupan ini dapat diselamatkan. Cinta, keadilan, kecerdasan, perdamaian, solidaritas sosial, dan lain-lain yang didambakan sepanjang abad bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga masalah spiritual. Ingatlah piagam PBB tentang perdamaian sendiri menyebutkan bahwa perdamaian dimulai bukan di tempat lain, melainkan di dalam hati dan jiwa manusia sendiri. Inilah pesan moral dari karya spiritual seperti Bhagavad Gita. Inilah pulalah pesan dari pepatah Kristen “Kerajaan Tuhan ada di dalam diri manusia”.


Daftar Pustaka
-------------
Ali Ahmad (1992). “Karya Naratif Sufi: Mantiq al-Tayr: Satu Pengenalan
Ringkas”. Dalam Sastera Sufi. Penyelenggara Baharuddin Ahmad. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,.

Fariduddin `Attar (1983). Musyawarah Burung. Terj. Hartojo Andangdjaja.
Jakarta: Pustaka Jaya.

Edward G. Browne (1976). A Literary History of Persia. Vol. II. Cambridge:
Cambridge University Press.

Abdul Hadi W. M. (1985) Sastra Sufi, Sebuah Antologi. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Hal. 274-286, “Ringkasan Parlemen Burung”.

Abdul Hadi W. M. (2004). Hermeneutika, Estetika dan Religiusutas. Yogyakarta:
Mahatari.

Seyyed Hossein Nasr (1987). Islamic Art and Spirituality. Ipswich: Golgonoza
Press.

Sabtu, 25 September 2010

Jalan Untuk Mencapai Makrifat


Kalam-kalam Hikmat mengajak kita merenung secara mendalam tentang pengertian amal, Qadak dan Qadar, takdir dan ikhtiar, doa dan janji Allah s.w.t , yang semuanya itu mendidik rohani agar melihat betapa besarnya apa yang dikaruniakan oleh Allah s.w.t. kepada hamba-hambanya Rohani yang terdidik begini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah s.w.t yang wajib disyukuri.

Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah s.w.t , tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayah dari Allah s.w.t.

Orang yang hatinya suci bersih akan menerima pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah s.w.t, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia mau ditemui dan dikenali.

Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah s.w.t. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah s.w.t. Allah s.w.t hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan 'diri-Nya'.

Penemuan kepada hakikat bahwa tidak ada jalan yang terjulur kepada gerbang makrifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu pergi lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah s.w.t maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t.

Ada orang yang mengetuk pintu gerbang makrifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun hingga membawanya kepada putus asaan.

Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah s.w.t bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima karnuia Allah s.w.t sebagaimana janji-Nya.

Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang makrifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa sedih. Dalam perjalanan mencari makrifat seseorang tidak terlepas dari kemungkinan perasaan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah s.w.t.

Seorang hamba tidak ada pilihan lain kecuali berserah diri kepada Allah s.w.t, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah s.w.t.

Aslim atau menyerah diri kepada Allah s.w.t adalah perhentian di hadapan pintu gerbang makrifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima karnuia makrifat. Allah s.w.t menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya.

Aslim adalah maqam berhampiran dengan Allah s.w.t.

Siapa yang sampai kepada maqam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah s.w.t kehendaki dari maqam inilah hamba diangkat ke Hadirat-Nya. Jalan menuju perhentian aslim ke pintu gerbang makrifat secara umumnya terbagi menjadi dua bagian.

Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah (berjuang melawan godaan hawa nafsu), kuat melakukan amal ibadah dan gemar menuntut ilmu.

Lahiriahnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya
memperteguhkan iman. Dipelajari dan mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya dari dirinya. Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji.

Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar nafsunya menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diridhoi Allah s.w.t. Inilah orang yang diceritakan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.".( Surah Al-'Ankabut ayat 69 )

Orang yang bermujahadah pada jalan Allah s.w.t dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyakkan ibadah, berzikir, menyucikan hati, maka Allah s.w.t menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayat sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah s.w.t tanpa ragu-ragu dan ridha dengan perlakuan Allah s.w.t.

Dia dibawa sampai dengan pintu gerbang makrifat dan hanya Allah s.w.t saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadirat-Nya ataupun tidak, dikaruniakan makrifat ataupun tidak. Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda daripada golongan yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan
bermujahadah. Tetapi, Allah s.w.t telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan menempatkannya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan kepada hidupnya.

Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang di antaranya dengan Allah s.w.t. Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah s.w.t, maka Allah s.w.t mencabut kerajaan itu darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada masa yang sama timbul satu keinsafan di dalam hatinya yang membuatnya menyerahkan dirinya kepada Allah s.w.t dengan sepenuh hatinya.

Sekiranya dia seorang hartawan, takdir akan memupuskan hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali Tuhan sendiri. Sekiranya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut ialah kemuliaan yang dimilikinya, digantikan pula dengan kehinaan sehingga dia tidak ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah s.w.t. Mereka kembali dengan penuh kerendahan
hati kepada Allah s.w.t dan timbullah dalam hati mereka suasana penyerahan atau aslim yang benar-benar terhadap Allah s.w.t. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa daripada makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja takdir dan perlakuan Allah s.w.t.

Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kenderaan bala bencana mampu sampai ke perhentian tersebut dalam waktu sesaat sedangkan orang yang mencari mungkin sampai pintu makrifat dalam waktu yang lama.

Abu Hurairah r.a menceritakan apa yang beliau dengar dari Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda yang maksudnya:

Allah berfirman: " Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu dan dia boleh memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua".

Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan berhampiran dengan Allah s.w.t. Oleh karena itu tidak perlu dipersoalkan tentang amalan dan ilmu sekiranya keadaan yang demikian terjadi kepada seorang hamba-Nya.

Senin, 20 September 2010

KOMUNIKASI DENGAN ALLAH


Apabila ingin meminta bantuan ataupun pertolongan kepada seseorang, maka yang pertama kita lakukan adalah menjalin komunikasi dan hubungan baik kepada sesorang yang kita minta pertolongan .Dengan demikian komunikasi dan hubungan baik adalah faktor utama dalam meminta pertolongan.Agar komunikasi itu lancar dan cepat maka memilih sarana komunikasi adalah faktor penting lainya.Sarana komunikasi yang canggih tentu akan mempermudah sampainya pesan yang disampaiakan ( meminta pertolongan ) kepada yang dimnta pertolongannya.Jadi faktor lain yang membantu lancarnya pertolongan adalah sarana alat komunikasi yang baik.

Demikian juga ketika kita ingin meminta pertolongan Allah hal pertama yang kita lakukan adalah menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan Allah,serta memakai sarana yang handal agar pesan kita sampai ke Allah.Setelah kita mengetuk pintu Taqwallah,terbukalah jalinan mesra hamba dan Tuhannya,dan shalat sebagai sarana komunikasi dengan Allah.Ketika kita membawa beban hidup dan perlu pertolongan maka pesan itu bisa disampaikan lewat shalat

Shalat adalah hubungan dua arah antara manusia dengan Allah dengan cara yang telah diajarkan Allah kepada para rosulullahn, ibadah ini memilki kedudukan penting dalam menjalin komunikasi dengan sang khalik,sehingga ibadah ini sebenarnya ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambanya, untuk kepentingan si hamba tersebut,dan tentu saja bukan untuk kepentingan Allah.

Bahkan Allah memanggil langsung Rosulullah,memerintahkan sholat kapada umatnya.Pesan yang disampaikan langsung ini memberikan arti rahasia bahwa solat mempunyai kedudukan penting.Allah menunjukan sifat Kasih dan sayang kepada hambaNya karena perintah solat bermanfaat untuk hambaNya dan diperintahkan langsung tanpa melalui Jibril,ketika isro’mi’roj, perjalan malam dari masjidil haram ke masjidil aqso ,hingga ke langit.Karena pentingnya shalat ni ,saat akhir hayatnya rosulullah berwasiat:"SHALAT SHALAT, SHOLAT, SHOLAT,….. BEGITU JUGA HAMBA SAHAYAMU

Setiap muslim sudah tahu bagaimana shalat dilakukan, bagi yang belum tahu mohon dibaca kembali buku buku tentang shalat.penulis yakin banyak muslim telah menjalakan ibadah ini, tetapi bagaimana kedudukan shalat kita? apakah shalat kita telah memenuhi persyaratan lahir maupun bati? itulah hal yang harus kita teliti kembali,agar supaya shalat menjadi sarana mendatangkan pertolongan dan mempunyai dampak positif seperti yang dimaksud Allah dalam surat al Ankabut 45 :"……Sesungguhnya shalat iu mencegah dari ( perbuatan ) keji dan mungkar……..

Makna shalat

حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ –

"Peliharalah semua shalatmu dan shalat wustho, berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) yang khusuk ( AL BAQOROH:238).

Makna lahiriah dari solat diajarkan oleh rosul mulai dari: takbir; ruku; sujud; salam dan sebgainya, seperti diajarlkan dalam ilimu fiqih,namun pada hakekatnya sholat adalah ibadah yang melibatkan kegiatan semua element manusia artinya tidak saja melibatkan panca indera tapi juga hati yang bersifat rohani.Memelihara sholat berarti memelihara ibadah itu dari kegiatan bersifat lahiriah dan hati sebagai kegiatan bersifat rohaniah.

Jadi apabila ibadah ini dipelihara dan dilaksanakan dengan benar maka akan tumbuh makna yang mempunyai pengaruh positif seperti yang dimaksud dalm alqur’an yaitu sebagai sarana permintaan hamba kepada Tuhannya,alat komunikasi dengan Tuhan, dan sarana perjalan rohani menuju Allah.sehingga berperan sebagai pengendali,pencegah kemungkaran manusia.dan menjadi jalan menuju pintu pertolongan Allah kepada hamabNya.

Penulis melihat sendiri seorang ulama yang diberi pertolongan Allah dibukakan hijab dikaruniai ilmu, ilham dan pertolongan lansung oleh Allah melalui sholat.Ketika itu seorang tamu datang ke rumah ulama ini,mengatakan bahwa saudaranya sakit berat tiba tiba muntah darah dokter sudah menyerah,akhirnya tamu ini minta pertongan Allah melalalui ulama itu.kemudian beliau memberikan air yang telah didoakan kepada Allah agar disembuhkan dari penyakitnya, serta diberi amalan doa untuk meminta langsung kepada Allah, berkat pertolongan Allah, saudara tamu itu disembuhkan.si tamu bertanya apa ada yang membuat sakit saudara saya kyai:katanya.dengan senyum khasnya ulama itu menjawab :"Tak usah engkau bertanya kenapa sakit yang penting sakitnya sembuh mohonlah pada Allah"pasti dikabulkan:jawab sang kyai menyejukan hatinya.Beberapa hari kemudian, setelah shalat dhuha.Beliau memanggil saya katanya : tolong keluar sebentar dan bersihkan garam garam yang ada dipintu depan pagar.Saya binggung kenapa beliau perintahkan ini? Ada apa.Setelah saya keluar ternyata ada seorang lewat dan menabur garam didepan rumah sang ulama itu.Usai melaksanakan perintahnya saya bertanya kepada ulama itu apa yang terjadi, belau ceritera : "setelah aku shalat tadi aku diberi petunjuk Allah seperti aku perintahkan kepadmu itu,bahwa orang tersebut membawa garam yang diberi mantra dukun sesat untuk melumpuhkan aku,karena aku telah memberi petunjuk melawan ilmu santetnya subhanallah Allah telah melindungiku dari kedholiman hambaNya.Itulah salah satu hikmah shalat,Sebagai saluran pertolongan .dan sarana Allah memberi petunjuk kepada hambaNya yang saleh..

SHOLAT YANG BERKWALITAS

Firman Allah : "Peliharalah shalat dan shalat wustha………"firman ini oleh Abdul qadir al Jilani rohimaullah diartikan sebagai shalat secara zahir dan shalat wusta (hati), secara zahir shalat dilakukan secara berdiri, membaca alfatihah ruku’, sujud, duduk antara dua sujud dan seterusnya, gerakan dalam shalat ini melibatkan anggota badan ,inilah shalat jasmani atau fiskal.Disebut dalan firman itu shalawati (segala shalat) yang mengandung arti jamak, dan tidak disebutkan Shalah itulah shalat bagian pertama dari firman itu.

Bagian kedua dari firman itu adalah shalat wustha,maksudnya adalah shalat hati, Abdulqadir al jilani rohimaulah menjelaskan; wustha dapat diartikan tengah karena hati terletak ditengah yaitu ditengah diri,maka dikatakan salat wustha sebagai shalat hati dengan tujuan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati .Shalat dan ibadah yang sebenarnya adalah shalat dan ibadah hati bila hati tidak khusuk atau tidak konsentrasi maka shalat jasmaninya berantakan sehingga shalat tersebut kurang berkwalitas atau berbobot.Oleh karena itu shalat berkwalitas berarti solat dengan hati yang khusuk

Komunikasi dengan Allah berarti komunikasi dengan yang maha gaib ,atau bersifat rohani,hati memegang peran penting dalam shalat.Bila hati tidak baik maka jasmaninya tidak akan baik artinya shalatnya menjadi kacau.Memperbaiki shalat berarti memperbaiki kondisi hati sehingga jasmanipun jadi baik,demikian juga rukun dan syaratnya harus sesuai syariat.

Jadi shalat dianggap sempurna bila zahirnya memenuhi syarat syarat hukum fiqih dan batiniyahnya memenuhi syarat sayarat amalan batin.

SHALAT DALAM KEHIDUPAN

Marilah sejenak meniliti diri masing masing , perhatikan rutinitas kegiatan sehari hari .bangun tidur,makan minum bekerja mencari nafkah atau belajar dan kegiatan lanya kemudian pulang istirahat,tidur .Dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun bahkan seterusnya rutinitas ini kita jalani,SHALAT kita terselip dalam rutinitas kehidupan SEHARI HARI.

Bila rangkaian kegiatan aktivitas seperti dfiatas dilakukan setiap hari tanpa ingat kepada Allah kira kira bisakah shalat kita khusuk? sudah pasti jawabnya adalah tidak.Aktivitas dan kegiatan sehari hari kita harus selalu ingat kepada Allah,berusaha sebanyak mungkin mengingat Allah,karena hal ini akan berpengaruh kepada kadar khusuknya shalat kita.Banyak sedikitnya serta dangkal atau dalamnya mengingat Allah ,langsung berakibat pada kwalitas dari shalat .Kekhusukan dan kedekatan kita dengan Allah pada waktu shalat adalah refleksi ke ingatan kita kepada Allah dalam kehidupan sehari hari.

Memahami kwalitas shalat dan usaha meningkatkan kwalitas shalat ,berarti memahami daya daya ruhani di alam pikiran dan daya daya rohani di alam hati dalam pelaksanaan shalat, shingga shalat yang bersifat tafakur menjadi ke tahanut (meditasi, semedi, khusuk).Dengan demikian kita siap siaga jika pada saat yang tak terduga Allah swt berkenan mengutus malaikat untuk memberi bisikan ke dalam hati baik yang berupa petunjuk dan pimpinan .pertolongan atau lainya yang cukup lembut

Apakah ada cara untuk memperbaiki tingkat INGAT kita kepada Allah?jawabnya adalah ADA.Yaitu jika kita melaksanakan sesuatu dengan NIAT,ikhlas semata mata karena ALLAH.Niatkan segala sesuatu sebagai IBADAH kepada ALLAH semata tidak karena lainya.Kita berangkat kerja niatkan diri untuk ibadah kepada Allah,memenuhi kewajiban tanggung jawab kepada penghidupan keluarga,ketika berangkat sekolah niatkan diri untuk beribadah karena kewajiban setiap hamba Allah untuk menuntut ilmu agar menjadi umat yang mulia.Pendek kata setiap kegiatan hanya semata karena Allah.Selingi setiap mulai dan mengakhiri kegiatan dengan do’a.Mulai belajar atau bekerja dengan doa"YA ALLAH LIMPAHKAN REZEKI ATAU ILMU KEPADA AGAR AKU BISAMEMENUHI KEWAJIBANKU SEBAGAI HAMBA MU:MOHON SELAMAT; MOHON PETUNjUK; MOHON PIMPINAN DAN BIMBINGAN DLL.atau doa lainya.Jika hal ini kita kerjakan berarti berusaha sebanyak mungkin berkomunikasi dengan Allah.Pengaruhnya adalah ketika kita mendengar azan ,seketika itu ingat kepada Allah,sehingga ada komunikasi,bila tidak mendengar azan maka hati bertanya apakah sudah azan?,pertanyaan ini menunjukan telah terjadi komunikasi dengan Allah,demikian seterusnya bila kita berwudlu,memasuki solat dari takbiratul ikhrom sampai salam akan terjadi komunikasi dengan Allah.diteruskan setelah selesai solat berdoa merupakan dialog komunikasi seoarang hamba kepada tuhannya..sampai kita selesai shalat dan kembali bekerja kita ushakan komunikasi dengan Allah dan selalu mengingat Allah,

Dalam keadaan normal shalat dilakukan dengan melibatkan semua aparatur tubuh,alam pikiran ,dan hati manusia yang sedang melaksanakna solat,menjadi aktif’Gambaran kondisi orang salat dapat digambarkan ditabel :


Salat type satu

Adalah shalatnya imam,seperti seorang pemimpin,imam selain memikirkan dirinya juga harus memikirkan makmumnya,pemusatan perhatian kepada Allah disertai dengan aktifitas pikiran,ingatan dan lain lain terhadap kepentingan makmum ,suara mereka dibawa meghadap Allah, imam sebaiknya faham bahasa arab.

Salat type dua

Shalat type 2 ini adalah shlatnya seorang yang tak faham bahasa arab,akan tetapi sepeti kita ketahui bahwa shalat memakai bahasa arab, sehingga paham atau tidak seorang yang melakukan sholat harus mengucpkan kata kata arab.karena tidak mengerti kata demi kata, ia tak berfikir mengnai isi dan makna yang diucapkan berarti pikiranf, pancainderanya aktif atau pasif tergantung kemampuan konsentrasi.Pemusatan perhatian ditujukan kepada ingatan hafalan maka perasaan pasif,ia tidak bicara dengan hatinya sebab tak tahu arti kata kata yang diucapkan sehingga hatinya pasif.

Salat type tiga

Shalatnya orang orang yang menangis atau bergembira (syukur) dihadapan Allah.adalah termasuk solat type ini.Ia mengucapkan kata kata bahasa arab dan tidak mengerti artinya.Ketika mengucapkan "ALLAHU AKBAR" atau baca Alfatihah,asal membaca ( hafalan ).sehingga ingatan aktif, kemudian ia menumpahkan perasaan duka atau gembira dihadapan Allah,tetapi tidak seirama atau sejalan dengan ucapan mulutnya.hati dan pikiran tidak seirama dengan uacapan ucapanya.

SHALAT TYPE EMPAT

INILAH SHALAT YANG KITA DAMBAKAN YAITU SHALAT YANG KUSUK, sholat yang dapat melambungkan ruh kita ke hadirat Allah dan seolah olah kita bertemu dihadapanya (bukan bersatu ),shalat yang dapat berkomunikasi dengan Allah sehingga Allah memberi jawaban atas segala pertanyaan dan beban hidup kita, pertolongan, bisikan hati, ilham, petunjuk dan pancaran cahaya Illahi dapat kita rasakan atau kita tangkap dalam hati,Segala yang ia tumpahkan lewat ucapan mulut atau hanya dalam hati adalah isi hati, ucapan suara hati kandungan hati.Hatinya aktif berbicara memanjatkan kata kata kepada Allah, pikiran dan ingatanya aktif saat mengucapkannya,namun setelah konsentrasi berhasil pikiran dan ingatan jadi pasif,saat hati bicara dengan bantuan pikiran dan ingatan, tercapailah konsentrasi (tafakur),kemudian pikiran dan ingatnya jadi pasif ,sehingga tercapai keadaan tahanut (semedi) seperti yang digambarkan oleh :KH.Syamsul Alam (1996) ..Menurut beliaua shalat type ini adalah tingkat shalat maksimal yang dapat dicapai oleh manusia,biasanya orangnya paham bahasa arab,tetapi shalat type ini bisa juga dicapai orang yang tidak paham bahasa arab,pada waktu hubungan hatinya dengan Allah sesudah selesai salam,yaitu pada waktu zikir dan munajad.

MELATIH SELALU INGAT KEPADA ALLAH

Sudah Sepantasnya jika ingin menjalankan shalat type 4,agar supaya selalu mendapat perlindungan pertolongan dan pemeliharaan Allah.Marilah sama sama penulis belajar meningkatkan ingat kita kepada Allah sehingga salat kita menjadi type 4.

Setiap memulai aktifitas bekerja, belajar, berwisata dan aktifitas lainya ucapkan dalam diri dengan bahasa yang dimengerti ATAU lebih baik dengan bahasa al qur’an ,arab yang dimengerti artinya: BISMILLAHIR ROHMANIRROHIIM "(dengan nama Allah yang pengasih lagi maha penyayang) dan bila mengahiri aktifitas ucapkan : ALHAMDULILLAH HIROBIL ‘ALAMIN ( segala puji bagi Allah seru sekalian alam )

Cara yang sederhana dalam meningkatkan ingat kepada Allah lakukan kebiasaan ini sampai minimal 40 hari berturut turut dan rasakan apa yang terjadi

AL-HIKAM ; PANDUAN MENUJU MA'RIFAT YANG BENAR



Al-Hikam karya Syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sukandari Asy-Syadzili q.s. adalah salah satu panduan filosofis untuk meluruskan dan meneguhkan keimanan.

Syaikh Ibnu ‘Athaillah q.s. penulisnya adalah pengikut thariqah syadziliyyah. Beliau merupakan salah seorang murid dan mursyid syadziliyyah terbesar. Sebagai seorang yang mencapai derajat tinggi dalam perjalanan spiritual, beliau tidak dikenal dengan berbagai macam karamah yang berbentuk keanehan-keanehan. Karamah beliau yang paling jelas adalah keistiqamahan beliau serta hikmah-hikmah yang beliau sampaikan.

Walaupun berasal dari keluarga syadziliyyah, Al-Hikam diakui dan dipergunakan secara umum oleh para penempuh jalan spiritual dari thariqah yang mana pun. Bahkan, bisa dikatakan bahwa pada saat ini, Al-Hikam adalah salah satu panduan dan rujukan utama. Kitab ini dipandang sebagai rujukan yang amat luar biasa manfaat dan menggerakkannya untuk mensucikan diri meraih tauhid yang hakiki.

Kitab ini mengajarkan ma’rifat. Dengan demikian kitab ini berada pada wilayah hati. Kitab ini cenderung berada di wilayah hakikat. Oleh karenanya, janganlah kitab ini dibawa ke wilayah syari’at.

Kitab ini tidak dipergunakan oleh para pemula. Para sufi mempergunakan kitab ini untuk panduan para murid lanjutan.

Untuk memahami kitab ini dengan baik memerlukan pemahaman pendahuluan. Selain itu memerlukan pula guru yang memang memahami dan mengamalkannya.

Banyak ungkapan hikmah dalam kitab ini yang tidak boleh dipahami leterlek tekstual. Ungkapan-ungkapannya harus dipahami dengan perenungan dan kedalaman hati. Keinsafan sebagai hamba yang penuh dengan kekurangan adalah titik awal pemberangkatan yang harus dimiliki oleh para pembaca, pengajar, pelajar dan pengamalnya. Tanpa keinsafan itu, ada kemungkinan banyak ungkapan dalam kitab ini yang akan disalahpahami.

Sebagai kelengkapan untuyk memahaminya, banyak penjelasan (syarh) yang telah ditulis para ulama untuk kitab ini. Di antara syarh itu adalah :
  • Goisul mawahibil ‘aliyyah karya syaikh Muhammad bin Ibrahim An-Nifzi Ar-Rindi q.s.

  • Iqazul himam karya syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani q.s.

  • Syarh Al-Hikam karya syaikh ‘Abdullah bin Hijazi Asy-Syarqawi

Beberapa penjelasan dan terjemah bahasa Indonesia sudah ada pula. Namun, saya belum menemukan penjelasan dan terjemah yang baik, selain karya Syaikh Muhibbuddin Waliy. Beberapa terjemah saya temukan tidak sesuai dengan aslinya. Ada reduksi sesuai dengan kehendak atau pemahaman sang penterjemah.

Untuk itu, saat ini dianjurkan betul untuk merujuk pada kitab aslinya dengan guru yang benar. Bila mempergunakan terjemah dan penjelasan bahasa Indonesia pergunakanlah karya Syaikh Muhibbuddin Waliy.

diposkan oleh oyyo radyt_*

Kamis, 16 September 2010

ZIARAH KUBUR DAN MENDOAKAN ORANG MATI


Ziarah kubur itu hukum nya mustahab ( mendekati sunnah ), dengan tujuan mengingat akhirat, dan untuk menimbulkan pemikiran yang baik. adapun menziarahi kuburan orang - orang yang saleh hukumnya mustahab, setelah adanya sabda Nabi saw. yang telah melarang mengunjungi kuburan tetapi kemudian diizinkan. ( dengan demikian telah ada larangan mengunjungi kuburan, tetapi kemudian diizinkan, hal itu tertera dalam hadist Muslim dari hadist Buraidah )dalam hadist di sebutkan :

Aku pernah melarang padamu menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahilah, sesunggunya yang demikian mengigatkan padamu tentang akhirat.” ( HR. Ahmad )

Dan Rasulullah saw. Pernah mengunjungi kuburan ibu nya yaitu dalam hadist yang berbunyi :

Aku meminta izin pada Tuhan ku untuk memintakan ampun untuk ibuku tetapi Dia tidak mengizinkan padaku, lalu aku meminta izin untuk mengunjungi kuburannya dan Dia mengizinkan.” ( HR Muslim ).

Demikian pula Aisyah r.a yang pernah mengunjungi kuburan saudaranya, Abdur Rahman, yang kemudian ditanya oleh Ibnu Abi Mulaikah : “Bukankah Rasulallah saw. Melarang berziarah?” Aisyah lalu menjawab: “Ya, tetapi kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.” ( Hadist ).

Dengan demikian dianjurkan untuk tidak terlalu sering menuju kuburan buat menziarahinya, walaupun hal itu terlalu sering menuju kuburan buat menziarahinya, walaupun hal itu diperbolehkan bagi wanita – wanita buat mengunjunginya. Sebab wanita lebih banyak meratapnya jika berziarah pada kuburan. Dengan demikian tidak selayaknya mengunjungi kuburan jika sekiranya akan menimbulkan satu keburukan. Dan jika sedang menuju kuburan itu tidak dibenarkan berduaan dengan laki – laki yang bukan muhrim atau bukan suaminya.

Sabtu, 04 September 2010

Hukum Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah wajib atas setiap muslim dan muslimah. Berdasar hadits berikut, Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Rasulullah saw. telah memfardhukan (mewajibkan) zakat fitrah satu sha’ tamar atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, baik laki-laki maupun perempuan, baik kecil maupun tua dari kalangan kaum Muslimin; dan beliau menyuruh agar dikeluarkan sebelum masyarakat pergi ke tempat shalat ‘Idul Fitri.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III :367 no:1503, Muslim II: 277 no:279/984 dan 986, Tirmidzi II : 92 dan 93 no: 670 dan 672, ‘Aunul Ma’bud V:4-5 no: 1595 dan 1596, Nasa’i V:45, Ibnu Majah I: 584 no:1826 dan dalam Sunan Ibnu Majah ini tidak terdapat “WA AMARA BIHA…”).

Hikmah Zakat Fitrah

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum (selesai) shalat ‘id, maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah); dan siapa saja yang mengeluarkannya sesuai shalat ‘id, maka itu adalah shadaqah biasa, (bukan zakat fitrah).” (Hasan : Shahihul Ibnu Majah no: 1480, Ibnu Majah I: 585 no: 1827 dan ‘Aunul Ma’bud V: 3 no:1594).

Siapakah Yang Wajib Mengeluarkan Zakat Fitrah

Yang wajib mengeluarkan zakat fitrah ialah orang muslim yang merdeka yang sudah memiliki makanan pokok melebihi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarganya untuk sehari semalam. Di samping itu, ia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, seperti isterinya, anak-anaknya, pembantunya, (dan budaknya), bila mereka itu muslim.

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Rasulullah saw. pernah memerintah (kita) agar mengeluarkan zakat untuk anak kecil dan orang dewasa, untuk orang merdeka dan hamba sahaya dari kalangan orang-orang yang kamu tanggung kebutuhan pokoknya.” (Shahih : Irwa-ul Ghalil no: 835, Daruquthni II:141 no: 12 dan Baihaqi IV: 161).

Besarnya Zakat Fitrah

Setiap individu wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar setengah sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ kismis, atau satu sha’ gandum (jenis lain) atau satu sha’ susu kering, atau yang semisal dengan itu yang termasuk makanan pokok, misalnya beras, jagung dan semisalnya yang termasuk makanan pokok.

Adapun bolehnya mengeluarkan zakat fitrah dengan setengah sha’ gandum, didasarkan pada hadits dari ‘Urwah bin Zubair r.a., (ia bertutur), “Bahwa Asma’ binti Abu Bakar r.a. biasa mengeluarkan (zakat fitrah) pada masa Rasulullah saw., untuk keluarganya yaitu orang yang merdeka di antara mereka dan hamba sahaya – dua mud gandum, atau satu sha’ kurma kering dengan menggunakan mud atau sha’ yang biasa mereka mengukur dengannya makanan pokok mereka.” (ath-Thahawai II:43 dan lafadz ini baginya).

Adapun bolehnya mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ selain gandum yang dimaksud di atas, mengacu kepada hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata, “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum (jenis lain), atau satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ susu kering, atau satu sha’ kismis. (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:371 no: 1506, Muslim II:678 no:985, Tirmizi II: 91 no :668, ‘Aunul Ma’bud V:13 no:1601, Nasa’i V:51 dan Ibnu Majah I:585 no:1829).

Dalam Syarah Muslim VII:60 Imam Nawawi menegaskan, “Menurut mayoritas fuqaha tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan harganya (bukan berupa makanan pokok).”

Menurut hemat penulis sendiri, pendapat Imam Abu Hanifah r.a. yang membolehkan mengeluarkan zakat dengan harganya tertolak, karena ayat Qur’an mengatakan yang artinya, “Dan Rabbmu tidak pernah lupa.” (Maryam : 64).

Andaikata mengeluarkan zakat fitrah dengan harganya atau uang dibolehkan dan dianggap mewakili, sudah barang tentu Allah Ta’ala dan Rasul-Nya menjelaskannya. Oleh karena itu, kita wajib mencukupkan diri dengan zhahir nash-nash syar’I, tanpa memalingkan (maknanya) dan tanpa pula memaksakan diri untuk mentakwilkan.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Rasulullah saw. pernah memerintah (kami) agar zakat fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat ke tempat shalat “Idul Fitri”. (Takhrij haditsnya lihat pembahasan Hukum Zakat Fitrah, beberapa halaman sebelumnya).

Bagi yang punya, boleh mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum ‘Idul Fitri. Sebab ada riwayat dari Nafi’, berkata, “Adalah Ibnu Umar r.a. menyerahkan zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak menerimanya; dan kaum Muslim yang wajib mengeluarkan zakat mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum ‘Idul Fitri.” (Shahih : Fathul Bari III:375 no:1511).

Haram menunda pengeluaran zakat fitrah hingga di luar waktunya, tanpa adanya udzur syar’i. Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah memfardhukan zakat fitrah (atas kaum Muslimin) sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya seusai shalat ‘Idul Fitri’, maka dari itu termasuk shadaqah biasa.” (Nash hadits ini sudah termaktub dalam pembahasan Hikmah Zakat Fitrah).

Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Zakat Fitrah hanya dialokasikan kepada orang-orang miskin saja. Ini didasarkan pada Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas r.a., “Sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (Teks Arabnya termuat dalam pembahasan Hikmah Zakat Fitrah).

Shadaqah Tathawwu’

Sangat dianjurkan memperbanyak shadaqah tathawwu’, (shadaqah sunnah). Berdasar firman Allah SWT, “Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah:261).

Juga berdasarkan sabda Nabi saw., “Tidak ada suatu ketika segenap hamba berada di pagi hari melainkan dua puluh malaikat akan turun lalu salah seorang di antara keduanya berkata, Ya Allah berilah ganti kepada orang tersebut berinfak itu, dan yang lain berdo’a (juga), Ya Allah berilah kerusakan kepada orang yang enggan berinfak itu)." (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:304 no: 1442 dan Muslim II : 700 : 1010).

Dan orang yang paling utama memperoleh shadaqah ialah keluarganya dan kerabatnya. Rasulullah saw. menegaskan, “Sedekah yang diberikan kepada orang miskin adalah berfungsi sebagai shadaqah, sedang yang diberikan kepada kerabat (mempunyai) dua fungsi; sebagai shadaqah dan sebagai silaturrahmi (penyambung hubungan rahim)." (Shahih : Shahihul Jami’us Shaghir no : 3835 dan Tirmidzi II: 84 no: 653).

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 448 – 453.