Halaman

Sabtu, 29 Januari 2011

SAHABAT









Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
bertumbuh bersama karenanya…

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi
membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,
namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian.Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita
membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun

ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Kamis, 20 Januari 2011

JILBAB BUSANA MUSLIMAH


Di antara kewajiban orang Islam adalah berpakaian sebagaimana diperintahkan oleh Alloh dan RosulNya. Alloh Yang Maha Kuasa telah memerintahkan wanita beriman untuk mengulurkan jilbab mereka pada tubuhnya. Dia berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59)

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa wanita wajib mengenakan jilbab. Jilbab yaitu: pakaian luar wanita semacam mukena/rukuh, yang dikenakan dari atas menutupi sebagian besar tubuhnya. Adapun sifat-sifat jilbab/pakaian wanita adalah sebagai berikut:

  1. Menutup seluruh badan, kecuali bagian yang boleh dibuka.

Alloh berfirman:

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Dan janganlah mereka (wanita-wanita beriman) menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka.(QS. 24:31)

Alloh melarang wanita menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak. Tentang perhiasan yang biasa nampak, maka ada dua penafsiran ulama:

a) Pakaian yang dikenakan. Ini pendapat Ibnu Mas’ud.

b) Wajah dan dua telapak tangan. Ini merupakan pendapat sahabat: Aisyah, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas. Juga merupakan pendapat Ibnu Jarir, Al-Baihaqi, Adz-Dzahabi, Al-Qurthubi, Ibnul Qoththon, Al-Albani. Dan ini pendapat yang lebih kuat, karena merupakan amal yang berlaku pada banyak wanita di zaman Nabi dan setelahnya. (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal: 41, 51, 52, 59).

Dengan demikian wanita muslimah wajib menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Menutup wajah wanita tidaklah wajib, namun bukanlah perbuatan yang berlebihan, bahkan hal itu merupakan keutamaan, karena dilakukan oleh istri-istri Nabi dan sebagian sahabat wanita di zaman itu dan setelahnya


2. Bukan merupakan perhiasan.

Tujuan perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan. Kalau jilbab/pakaian itu sendiri dihias-hiasi, dengan renda, bros, aksesoris, warna-warni yang menarik pandangan orang, maka ini termasuk “tabarruj” yang terlarang. Alloh berfirman:

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

Dan janganlah para wanita mukminat itu menampakkan perhiasan mereka. (QS. 24:31)

Alloh juga berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu tabarruj. (QS. 33:33)

Tabarruj artinya: perbuatan wanita yang menampakkan perhiasannya, keindahan-keindahannya, dan segala yang wajib ditutupi, yang berupa perkara-perkara yang mendorong syahwat laki-laki”. (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:120)

Oleh karena itulah jika keluar rumah, hendaklah wanita memakai pakaian yang berwarna gelap, tidak menyala dan berwarna-warni sehingga akan menarik pandangan orang.


3. Tebal, tidak menampakkan warna kulit.

Karena jika kainnya tipis, maka berarti tidak menutup aurot.

Nabi Muhammad bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dua jenis (manusia) di antara penduduk neraka, sekarang aku belum melihat mereka: Sekelompok laki-laki yang membawa cemeti-cemeti, seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya. Wanita-wanita yang berpakaian, (tetapi) mereka telanjang. Mereka menjauhkan orang lain (dari kebenaran), mereka (sendiri juga) menjauhi (kebenaran). Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Para wanita ini tidak akan masuk sorga dan tidak akan mendapatkan bau sorga. Padahal baunya akan didapati dari jarak yang sangat jauh. (HR. Muslim, no: 2128)

Di antara penafsiran ulama terhadap sabda Nabi: “wanita-wanita yang berpakaian, (tetapi) telanjang”, yaitu: mereka menutupi sebagian tubuhnya, tetapi menampakkan sebagian lainnya untuk memamerkan kecantikan. Atau mereka mengenakan pakaian yang tipis yang memperlihatkan warna kulitnya. Sehingga mereka itu berpakaian seperti lahiriyahnya, namun mereka telanjang karena tidak menutupi aurot..Oleh karena itulah Ibnu Hajar Al-Haitami menghitung perbuatan wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna kulitnya termasuk dosa besar! (Az-Zawajir 1/127, 129)

Para ulama’ mengatakan: “Wajib menutupi aurot dengan apa yang tidak menampakkan warna kulit…” (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 3/170. Dinukil dari hal: (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:129, karya Syeikh Al-Albani)


4. Longgar, tidak ketat yang membentuk anggota tubuh.

Usamah bin Zaid berkata: “Rasulullah memberiku pakaian tebal buatan Qibthi (Mesir) di antara yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Maka aku pakaikan kepada istriku. Kemudian beliau bertanya: “Kenapa engkau tidak memakai pakaian buatan Qibthi itu?” Aku menjawab: “Aku pakaikan kepada istriku”. Maka beliau bersabda: “Perintahlah dia agar memakai pakaian rangkap di dalamnya, karena aku khawatir pakaian itu membentuk ukuran tulangnya”. (HR. Dhiya’ Al-Maqdisi; Ahmad; Al-Baihaqi; dihasankan oleh Al-Albani di dalam131)

Yaitu menampakkan bentuk anggota tubuhnya, sebagaimana banyak dilakukan oleh wanita-wanita jahiliyah di zaman ini. Kaos ketat, celana jins ketat, berpakaian tetapi telanjang!


5. Tidak diberi wewangian.

Nabi Muhammad bersabda:

كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً

Setiap mata pasti berzina. Dan jika wanita memakai minyak wangi lalu dia melewati majlis (laki-laki) maka dia ini dan itu, yakni pezina. (HR. Tirmidzi, no: 2786; Abu Dawud, no: 4173; dll)


6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Abu Huroiroh berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

Rosululloh melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Dawud, no: 4098; Ibnu Majah; Ahmad; dll

Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar Al-Haitami memasukkan ini dalam dosa-dosa besar! Dengan ini jelas bahwa wanita tidak boleh memakai pakaian yang khusus bagi laki-laki, seperti jaket, celana panjang, sorban, peci, topi, dsb. ((Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:150)

Dan kaedah yang membedakan antara pakaian laki-laki dan wanita adalah apa yang pantas dan diperintahkan agama kepada laki-laki dan wanita. Wanita diperintahkan dengan menutupi diri, dan tidak pamer keindahan. (Lihat: (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:153)


7. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir atau fasik.

Secara umum agama Islam melarang umatnya menyerupai orang-orang kafir dalam segala perkara yang merupakan ciri khusus mereka. Termasuk dalam masalah pakaian. Maka wanita beriman terlarang meniru dan menyerupai pakaian wanita-wanita kafir atau fasik. Nabi Muhammad bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk mereka. (HR. Abu Dawud, no: 4031; dll)

Setelah kita mengetahui hal ini, perhatikanlah yang ada pada kebanyakan wanita muslimat! Mereka banyak meniru mode-mode baju-baju wanita-wanita kafir dan fasik. Alangkah jauhnya mereka dari tuntunan agama yang haq.


8. Bukan pakaian syuhroh (yang menjadikan terkenal).

Nabi Muhammad bersabda:

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ

Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, Alloh akan memakaikan padanya pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar padanya di dalam neraka. (HR. Abu Dawud, no: 4030; Ibnu Majah)

Ibnul Atsir berkata: “Yang dimaksudkan adalah bahwa pakaiannya menjadi terkenal di kalangan orang banyak, karena warnamya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka, sehingga orang-orang mengangkat pandangan mereka kepadanya, dan dia berlagak dengan kebanggaan dan kesombongan”. (Dinukil dari Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:213)

Syeikh Al-Albani berkata: “Pakaian syuhroh adalah setiap pakaian yang diniatkan agar terkenal pada manusia. Baik pakaian itu mahal/berharga, yang pemakainya mengenakannya untuk membanggakan dengan dunia dan perhiasannya, atau pakaian buruk/rendah yang pemakainya mengenakannya untuk menampakkan zuhud (menjauhi dunia) dan riya’. (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:213). Al-hamdulillah Roobil ‘Alamiin


RUJUKAN: Jilbab Mar’atil Muslimah, karya Syeikh Al-Albani, penerbit: Maktabah Al-Islamiyah



Rabu, 05 Januari 2011

Manfaat Dzikir


” Wahai org yang beriman, Ingatlah dengan ingatan/dzikir yang banyak. (QS. Al-Ahzab:41)”

“Ingatlah, saya akan memberitahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling sucinya amal kalian di sisi Raja Kalian, Paling tingginya amal kalian dalam Tingkatan beberapa Derajat, dan Paling baiknya Pemberian daripada emas dan perak, Jika kalian Bertemu musuh-musuh kalian (Hawa nafsu), maka kalian akan memukul leher-leher mereka(ganti) memukul leher-leher kalian, Para sahabat bertanya:” Apa itu Wahai Rosululloh?..Beliau menjawab: Dzikrulloh”
(HR.Baihaqi dari Ibnu Umar, Kanzul Ummal 1/428.)

“Hari Kiamat tidak akan sampai terjadi sampai di bumi ini hingga tidak ada yang mengucap Alloh, Alloh”
(HR.Muslim dari Anas Bin malik )

“Ingatlah Aku(Alloh), maka aku akan mengingatmu”
(Al Baqarah :152)

Dzikir adalah merupakan Rukun yang sangat kuat dalam menuju Al-haq bahkan keberadaannya merupakan tiang, tiada akan menyampaikan kepada Al haq kecualai melanggengkan istiqamah dzkir, Dzikir ada dua macam Yaitu dzkir lisan dan dzkir qolbu (HR.At-Tarmudzi dari anas bin malik) Dzkir lisan mengantarkan hamba kepada pada kelanggengan dzikir Hati/qolbu, Dzikir lisan Punya pengaruh untuk mengantarkan kepada dzkir Hati.

Menurut Para ahli mukasafirin danAhl- khawas Dzikir yang langgeng meyebarkan Kewalian, barang siapa yang melangenggkan Dzikir maka di anugrahi Penyebaran Kecintaan Kekasihnya dan jika Dia mencabut dzkirnya maka Penyebaran Kecintaannya akan dicabut darinya.

Dzikir kepada alloh dengan Qolbu adalah Pedang para Penempuh bagi orang-orang yang menuju Ilahiyah, Dengan Pedang itu maka mereka berperang melawan musuh-musuhnya (hawa nafsu) dan menghalau beberapa Penyakit (lahir dan Bathin) yang mencoba menganggunya, dan dengannya menghalau beberapa Musibah dari semua yang dibencinya, Muhammad Al-Wasithi pernah ditanya tentang keutamaan Dzikir,lalu dia menjawab : “Yaitu keluar dari medan Kelupaan dan menuju ke istiqomahan Hati yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan menambah tarikan Rasa Cinta Kepada Alloh, Dzun Nun Al-Mishri berkata: “Barang Siapa Ingat alloh dengan Ingatan yang Haqiqi maka dia pasti lupa segala sesuatunya disisi ingatannya dan Alloh akan menjaganya dari segala sesuatunya.

Keistimewaan Dzkir tidak dibatasi Ruang dan waktu, bahkan tidak ada kecuali seoang hamba diperintahkan berdikir, baik bersifat wajib dan sunat. Shalat meski kedudukannya sebagai Ibadah yang paling mulia disisi Alloh adalah merupakan rangkaian dari pada Dzkir dan Doa. dan Menurut Syeikh Abu Ali Ad-Daqaq pernah ditanya, Apakah dzkir dan berfikir lebih mulia?”

Apa yang terjadi pada Syaikh?”
“Bagi saya,” jawab Asy-Syaikh Abu Abdurrahman,”Bahwa zikir lebih sempurna daripada berfikir, karena Allah adalah Dzat Al-Haqq di Sifati dengan dzkir tidak dengan Berfikir, Sesuatu yang menjadi Sifat Al-Haq adalah lebih sempurna dan kesempurnaannya dari pada sesuatu yang dikhususkan oleh Mahluk Sebagai Sifat Al-Haq.

Dalam Suatu Hadis disebutkan Jibril a.s pernah berkata kepada Rosululloh SAW, bahwa Alloh SWT berfirman:”Saya memberi umatmu sesuatu yang belum Pernah Saya Berikan kepada Umat Sebelumnya.”

Apa Itu, Wahai Jibril?” Jawab Rosululloh SAW..
“Yaitu Firmannya mengatakan:(karena itu), Ingatlah Kalian, maka akupun pasti MengingatMu (QS.Al-Baqarah:152)

Menurut Akhli tafsir ayat tadi adalah Bermakna bahwa Malaikat selalu berkonsultasi dengan Orang Yang berdzikir ketika hendak mencabut Nyawanya bahkan Menghiburnya bagi yang akhli Berdzkir. Dan dalam Kitab Taurat Musa a.s Pernah bertanya,”Wahai Tuhan, Dimana Engkau Berada?”
“Di Qolbu hambaku Orang-orang beriman (yang selalu senantiasa Berdzkir)”
artinya, Aktifitas Dzkir yang menetap didalam hati Karena Alloh SWT bebas dari Segala yang bersifat mebetap, berubah dan berpindah,dan Dia menetap dan mewujudkannya dalam Hati Hambanya yang Berdzkir”.

Bahwa dikatakan beberapa akhli Haqeqat dan Bebarapa para Sahabat nabi dari Salam Al Farizi, dan zait Bin Haritsah dll mengatakan bahwa mencapai rasa Manis dalam Kehidupan ada Tiga Hal Yaitu : Khusu di dalam Shalat, Dzkir selalu mengisi aktifitas kehidupan, dan Membaca qur’an sesuatu yang tdk pernah ditinggalkannya setiap hari, Dikatakannya Jika Mengingat-Ku lebih menguasai hamba-Ku, maka berarti Dia Rindu kepada-Ku yang membuat Saya Rindu kepadanya. Dan Ingatlah Aku(Alloh SWT) mewahyukan kepada Nabi Daud a.s “Bersamaku Bergembiralah dan dengan MengingatMu(Dzkrullah) dan dengan mengingatKu bersenang-senanglah” dan segala sesuatu mempunyai siksaan dan Siksaan bagi Orang yang Marifatullah adalah keterpustusan dari Dzkir, Di Dalam Kitab Injil disebutkan:” Hai Isa a.s Ingatlah Aku ketika kamu Marah, maka Pasti aku mengingatmu ketika Aku Murka, Ridalah dengan Pertolongan-Ku Karena Pertolongan-Ku lebih baik daripada Pertolongan (jasadmu/ihtiarmu) maka berdzkirlah kepada_KU”.

Mudah-mudahan semua ini menjadikan kita Gemar Berdzkir dan menjadi aktifitas Ritunitas kehidupan sehari-hari baik Dzkir lisan,Qolbu,Sir dan Perbuatan sehari-hari yang kita mampu dan maksimalkan.Insya alloh.

amien.